Jangan Main-main Pada Anak

Nasih, Mohammad (2020) Jangan Main-main Pada Anak. Baladena ID.

[img] Text
index.html

Download (136kB)
Official URL: https://baladena.id/

Abstract

Jika setiap anak kita mendapatkan pelajaran alat untuk bisa memahami Islam ini, maka anak-anak kita akan memperoleh kemudian saat nalarnya sudah berkembang. Sebab, sharaf ini adalah alat paling fundamental untuk bisa menguasai teks Arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. Karena otak anak kecil bagaikan busa yang menyerap apa saja, tentu sangat penting untuk memasukkan sesuatu yang menjadi modal untuk pengetahuan selanjutnya dan selamanya. Dan al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad adalah kebutuhan yang niscaya diperlukan sepanjang hayat. Jika orang tua menyadari ini, dan mau agak serius untuk melakukannya, sesungguhnya usahanya tidak sulit. Setelah itu, orang tua bisa memilihkan lembaga pendidikan yang bisa memfasilitas pengembangan penguasaan kepada ajaran, baik sekolah maupun pesantren yang benar-benar dikelola dengan baik. Bukan asal sekolah dengan nama Islam atau papan nama pesantren. Juga bukan lembaga pendidikan yang asal mahal. Mengenai nyanyian anak-anak pun, saya melakukan banyak pembetulan untuk memastikan logika anak benar. Misalnya, lagu kereta api itu sesungguhnya mengandung kesalahan logika yang sangat perlu dibetulkan, yaitu: Baca Juga Meningkatkan Mutu Guru “Naik kereta api. Tut tut tut. Siapa hendak turut? Ke Bandung, Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma.” Tentu ini tidak baik untuk pembangunan karakter anak. Sebab, naik kereta api tentu saja harus beli tiket dulu, dan bayar. Maka saya ganti, bolehlah naik asalkan bayar. Tidak hanya itu. Ternyata masih ada lirik yang tidak logis, yaitu: “Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama.” Kereta tak berhenti tentu bahaya jika dinaiki. Maka kalimat itu harus diperbaiki dengan “Keretaku berhenti tak lama”. Masih banyak lagu anak-anak yang secara substansi berpotensi besar menyebabkan kesesatan cara berpikir dan konstruksi paradigma. Karena itu, masa pandemi ini harus dilihat dari sisi lain, terutama dalam konteks untuk mendidik anak anak secara lebih intensif. Dan kemampuan untuk itu sesungguhnya menjadi salah satu tolak ukur kekuatan dan ketahanan keluarga, terutama keluarga religius yang membutuhkan banyak asupan materi; bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga sesudahnya, akhirat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Item Type: Article
Subjects: L Education > L Education (General)
Depositing User: Dr, M.Si Mohammad Nasih
Date Deposited: 01 Mar 2021 12:53
Last Modified: 01 Mar 2021 12:53
URI: http://repository.umj.ac.id/id/eprint/3820

Actions (login required)

View Item View Item